PRAMUKACIANJUR.OR.ID– Kegiatan Jamboree On The Air dan Jamboree On The Internet (JOTA-JOTI) Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Cianjur Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan dan persahabatan antarpeserta, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran keterampilan komunikasi. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, anggota Pramuka golongan Penggalang putra dan putri mengikuti kegiatan rotasi di tiga pos yang menyajikan materi berbeda, mulai dari Kode Morse, Fox Hunting, hingga tata cara komunikasi melalui radio amatir.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Bumi Perkemahan Mandala Kitri Scout Camp, Cibodas, Cianjur, tersebut dirancang agar peserta dapat belajar melalui perpaduan penyampaian materi, tanya jawab, dan praktik langsung. Melalui sistem rotasi kelompok, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal dasar-dasar komunikasi radio sekaligus mengembangkan ketelitian, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan memecahkan masalah.
Pada Rotasi 01 Pos 1, peserta Kelompok 1 mengikuti pembelajaran Kode Morse yang dilaksanakan di Aula Perkemahan. Kegiatan dipandu oleh Kak Raskah Hikmah Fadilah sebagai pembawa acara, dengan materi disampaikan oleh Kak Asep Saepudin. Materi ini menjadi salah satu dasar penting dalam pengenalan sistem komunikasi yang telah lama digunakan dalam dunia kepramukaan dan komunikasi radio amatir.
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada sejarah dan fungsi Kode Morse, termasuk penggunaan kombinasi tanda titik dan garis untuk menyampaikan pesan. Peserta juga mempelajari cara menghafal sandi melalui metode kata kunci agar lebih mudah memahami dan mengingat setiap kode yang digunakan dalam komunikasi.
Tidak berhenti pada teori, peserta Kelompok 1 juga berlatih mengirimkan pesan SOS dan nama masing-masing menggunakan peluit, senter, serta tombol telegraf. Praktik tersebut melatih kemampuan peserta dalam mengirim dan menerima pesan secara tepat, sekaligus memahami pentingnya ketelitian agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan benar oleh pihak lain.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi praktik berlangsung. Mereka berkesempatan mencoba secara langsung penggunaan Kode Morse serta memahami bahwa komunikasi tidak selalu harus dilakukan melalui percakapan lisan atau perangkat digital. Keterampilan ini juga memperkenalkan nilai kedisiplinan, kesabaran, dan ketepatan dalam menyampaikan informasi.
Sementara itu, Rotasi 01 Pos 2 yang berlangsung di Aula Tenda BPBD diikuti oleh peserta Kelompok 2, terdiri atas Penggalang putra dan putri. Kegiatan dipandu oleh Kak Anisa, dengan pemateri Bapak Rodi, Bapak Auh, dan Bapak Asep Suryana. Pada pos ini, peserta mendapatkan materi mengenai Fox Hunting atau teknik mencari arah sumber pemancar radio.
Fox Hunting merupakan aktivitas yang menggabungkan keterampilan komunikasi radio, pengamatan, dan navigasi untuk menemukan lokasi pemancar berdasarkan sinyal yang diterima. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada penggunaan handy talky (HT) dan antena pengarah untuk membantu menentukan arah datangnya sinyal radio.
Para pemateri menjelaskan prinsip dasar pencarian sinyal serta langkah-langkah yang perlu diperhatikan ketika menentukan arah sumber pemancar. Setelah menerima penjelasan, peserta diajak mengikuti praktik lapangan dengan mencari pemancar yang telah disembunyikan oleh penyelenggara kegiatan.
Praktik tersebut menjadi pengalaman menarik bagi peserta karena mereka harus mengamati perubahan penerimaan sinyal, menentukan arah, serta bekerja sama dengan anggota kelompok untuk mempersempit lokasi pencarian. Melalui kegiatan ini, peserta belajar bahwa keterampilan radio tidak hanya berkaitan dengan berbicara melalui perangkat komunikasi, tetapi juga dapat digunakan untuk kegiatan penelusuran dan pencarian berbasis sinyal.
Adapun Rotasi 01 Pos 3 dilaksanakan di Aula Cadika, Mandala Kitri Scout Camp Cibodas, dengan peserta Kelompok 3 dari golongan Penggalang putra dan putri. Kegiatan dipandu oleh Kak Marzha, sedangkan materi disampaikan oleh Kak Arifin, Pa Hadi G, dan Kak Syahira. Fokus pembelajaran pada pos ini adalah QSO atau communication contact, yakni proses melakukan kontak komunikasi melalui radio amatir.
Dalam sesi QSO, peserta mendapatkan pemahaman mengenai tata cara melakukan panggilan (calling), menjawab panggilan, serta menerapkan etika berkomunikasi melalui radio amatir sesuai prosedur yang diperkenalkan dalam kegiatan bersama unsur radio amatir. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai pentingnya penggunaan tata cara komunikasi yang tertib, jelas, dan tidak mengganggu komunikasi pihak lain.
Setelah pemaparan materi secara bergantian oleh para pemateri, peserta mengikuti sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman mereka. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi QSO singkat yang dilakukan oleh perwakilan peserta. Melalui simulasi ini, anggota Pramuka dapat mencoba menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam situasi komunikasi radio secara langsung.
Rangkaian pembelajaran di ketiga pos tersebut menunjukkan bahwa JOTA-JOTI menjadi ruang edukasi yang menghubungkan kegiatan kepramukaan dengan perkembangan teknologi komunikasi. Peserta tidak hanya menerima penjelasan dari pemateri, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba berbagai teknik yang dapat menambah wawasan dan keterampilan praktis mereka.
Materi Kode Morse memperkuat kemampuan peserta dalam memahami komunikasi berbasis sandi, Fox Hunting melatih pengamatan serta kerja sama dalam mencari sumber sinyal, sedangkan QSO memperkenalkan prosedur dan etika berkomunikasi melalui radio amatir. Ketiga materi tersebut saling melengkapi dalam memberikan gambaran mengenai luasnya pemanfaatan teknologi komunikasi dalam kegiatan kepramukaan.
Selain aspek teknis, kegiatan ini juga menjadi sarana pembentukan karakter. Peserta didorong untuk bekerja sama, menghargai instruksi pemateri, berkomunikasi secara santun, serta bertanggung jawab dalam menggunakan perangkat komunikasi. Pengalaman belajar secara langsung di alam terbuka turut memberikan suasana yang berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas.
Melalui pelaksanaan rotasi kegiatan JOTA-JOTI Kwarcab Cianjur Tahun 2026, diharapkan para anggota Penggalang dapat membawa pulang pengetahuan dan keterampilan baru untuk dikembangkan di gugus depan masing-masing. Pengalaman tersebut juga diharapkan menumbuhkan minat terhadap teknologi komunikasi, meningkatkan kreativitas, serta memperkuat semangat persaudaraan di antara anggota Gerakan Pramuka.
JOTA-JOTI sendiri merupakan kegiatan kepramukaan yang memadukan komunikasi melalui radio amatir dan internet untuk menghubungkan anggota Pramuka dari berbagai daerah hingga berbagai negara. Dengan pembelajaran yang interaktif dan berbasis praktik, kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan generasi muda yang terampil, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kepramukaan.
Wakil Ketua Kwartir Cabang Cianjur Bidang Huminpro Kak DR Nanang Rustandi menyampaikan apresiasi atas keterlibatan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Cianjur yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan. Ia menyebutkan bahwa kolaborasi dengan ORARI menjadi kesempatan berharga bagi anggota Pramuka untuk mengenal radio komunikasi secara langsung dan memahami bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun komunikasi antardaerah.
“Alhamdulillah, kita bisa bersama-sama dengan kawan-kawan ORARI yang dipimpin oleh Bapak Rudi Syahdiar. Kita akan belajar bersama mengenal radio komunikasi. Manfaatkan kesempatan ini untuk menambah ilmu dan keterampilan, sehingga adik-adik memiliki pengalaman baru yang berguna bagi pengembangan diri maupun kegiatan kepramukaan,” tambahnya.
Keterlibatan ORARI Lokal Cianjur diharapkan dapat memberikan pengalaman praktis kepada peserta mengenai penggunaan perangkat radio komunikasi, tata cara berkomunikasi melalui radio, serta pentingnya kedisiplinan dalam menyampaikan informasi. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi bekal untuk memahami peran komunikasi radio dalam situasi tertentu, termasuk ketika jaringan komunikasi berbasis internet mengalami gangguan.[PKC/Asmuh]**





0 Comments